Kisah Sukses Rusdi Ahmad Baamir menjadi juragan batik
Bagi masyarakat Indonesia, keputusan Badan Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) untuk mengubah batik sebagai warisan dunia adalah kebanggaan yang luar biasa. Tetapi, bagi Rusdi Ahmad Baamir, batik bukan hanya menjadi kebanggaan, tetapi juga jalan menuju kesuksesan.

Sebagai pengusaha batik non-komersial, Rusdi sekarang menjadi salah satu pengusaha batik terbaik. Dia memiliki 11 toko batik di pusat perdagangan Tanah Abang, memasok batik di 38 outlet di Ramayana department store dan memiliki dua bengkel batik di Pekalongan, Jawa Tengah. Sebuah kesuksesan yang luar biasa.

Rusdi meraih keberhasilan yang tidak semudah membalikkan telapak tangannya. Ia harus tertatih tatih untuk menjadi pelopor dalam bisnis batik yang dinamai merek Salsa.

Sejak kecil, pria kelahiran Surabaya, pada 13 Juli 1974, sudah memiliki bakat bisnis. Ketika berusia 10 tahun, Rusdi, yang kehilangan ayahnya, ia kini membantu mendukung ekonomi keluarga dengan menjual rafia dan plastik bekas di Pasar Ampel, Surabaya.

"Saat itu, saya bisa mengantongi Rp50 per hari," kenangnya.

Ketika berusia 12 tahun, Rusdi menjual parfum dan suvenir dari Arab Saudi. "Ngomong-ngomong, ada kerabat yang tinggal di sana," katanya.

Pada tahun 1993, setelah sekolah menengah, ia terus berdagang hingga tahun 1995. Tetapi, karena ingin merasa seperti seorang karyawan, ia bekerja pada sebuah pabrik sepatu di Surabaya. Meskipun bayarannya sedikit dan hanya cukup untuk makan dan biayanya, jangan berkecil hati. "Yang penting adalah mendapatkan pengalaman sebanyak mungkin," katanya.

Sebenarnya, Rusdi bekerja di bagian gudang. Tetapi, karena dia lebih tertarik pada bagian pemasaran, dia membujuk seorang teman dari bagian pemasaran untuk mengajak keliling ketika dia sedang berlibur. Ternyata, perannya dalam pemasaran sepatu cukup terlihat. Terbukti dengan catatan penjualan meningkat dan dia menerima pujian dari bosnya.

Tetapi, setelah berjalan beberapa saat, kolega Rusdi memutuskan untuk mengikuti jalannya sendiri karena dia takut atasannya akan menemukannya. Akibatnya, volume penjualan anjlok. Setelah perusahaan menyelidiki, baru diketahui bahwa selama masa ini penjualan baik karena peran Rusdi.

Sadar akan potensi Rusdi, perusahaan mengangkat ia menjadi tenaga (salesman) pemasaran penjualan. Lantran sudah tidak lagi buta di dunia pemasaran, ia berhasil menjual sepatu dengan sukses.

Sayangnya, karena krisis ekonomi tahun 1998, perusahaan tidak dapat membayar gaji karyawan. Rusdi memilih untuk mengundurkan diri.

Karena tidak memiliki pekerjaan, Rusdi mencoba memproduksi sepatu dengan modal hanya 2 juta rupiah. Tetapi, usahanya cepat bangkrut karena kekurangan modal. Saat itu, daya beli masyarakat belum pulih. Dia bekerja di sebuah perusahaan pakaian. Tetapi, tidak butuh waktu lama bekerja disana karena perusahaan akhirnya bangkrut.

Bosan bekerja sebagai karyawan, Rusdi mencoba menjual batik di Pasar Turi, Surabaya. Dia mengambil stok pakaian batik yang menumpuk di toko-toko pakaian beberapa perusahaan di Surabaya. Ini dijual setelah batik dicuci lagi. Sayangnya, bisnis itu tidak bertahan lama karena tidak bisa bersaing dengan pedagang lain.

Pada tahun 2000, ketika dia mengantarkan saudaranya ke Solo, secara tidak sengaja, Rusdi menemukan sebuah pabrik kain yang sudah tutup gudang. Di dalam, ada stok kain yang telah terakumulasi selama dua tahun tak terpakai. Kemudian dia membeli kain seharga Rp. 4.000 per yard dan menjualnya kembali dengan harga Rp. 5.000 per yard ke Pekalongan. "Begitu ya, kainnya masih bisa disulap menjadi batik," katanya.

Dalam satu hari, Rusdi bisa mendapatkan manfaat/untung sebesar Rp. 40 juta untuk penjualan pakaian. Bahkan, dari bisnis itu, ia mampu membeli rumah seharga Rp. 400 juta. Tetapi, pada tahun 2002, usahanya menurun/bangkrut karena ia tidak dapat bersaing dengan pengusaha lain dengan modal lebih banyak.

Tanpa ingin putus asa, Rusdi punya ide untuk mengubah kain menjadi batik. Kemudian ia belajar membatik secara autodidak. Dia memulai bisnis dari awal dengan langsung ke Pekalongan, mengunjungi pengrajin dan penjahit. Dari sini, ia mendominasi bisnis batik dari atas ke bawah.

Rusdi kemudian mencoba menjual batik buatannya di Surabaya. "Ternyata diterima oleh pasar," katanya. Saat memasuki tahun ketiga, tepatnya pada 2005, ia mulai memproduksi batik dalam jumlah banyak. Sudah dicap, diwarnai, untuk menghasilkan batik yang siap jual.

Tanpa diduga, upaya mereka membentang. Pada 2006, ia membuka pabrik batik lain di Pekalongan. Pada 2007, ia membuka toko di Tanah abang dengan merek Batik Salsa. Nama itu diambil dari nama putra pertamanya, Salsabila.

Saat ini, omset toko batik salsa di Tanah abang mencapai 100 juta per bulan. Jumlah karyawan telah mencapai 300 orang. Bahkan, sejak 2009, ia memasok batik ke gerai-gerai department store Ramayana. 

Artikel Terkait -

0 komentar untuk Kisah Inspiratif Rusdi Ahmad Baamir menjadi juragan batik